Dia Masih Mengingatnya

Aku belum sepenuhnya bisa dikatakan "memiliki seutuhnya". Kenapa? Kadang aku pernah berpikir,pernahkah terlintas dipikirannya masa lalu dirinya yg kelam? Pernahkah ia merasa kecewa bahwa masa lalunya sudah memiliki yang lain? Bagaimana dengan aku? Aku? Bolehkah aku "cemburu"? Aku mengingatkan ke diriku " aku belum seutuhnya memiliki dirimu, jadi cemburu bukan merupakan hakku "

Tapi aku memiliki pembelaan atas pernyataan itu. Dia baik kepadaku. Dia istimewa kepadaku. Bukankah sudah cukup itu adalah bukti bahwa ia milikku? Tapi terkadang,masa lalunya membuyarkan kepercayaan diriku atas itu. Kepercayaan diri bahwa ia seutuhnya milikku. Kepercayaan diri bahwa ia benar benar sudah menjadi milikku. ITU HILANG SEKETIKA.

Terlintas dipikiranku " apakah ia masih mengingat ingat masa lalunya? " atau " apakah ia akan kembali jatuh cinta dengan masa lalunya dan meninggalkanku seorang diri? ". Sebagai seseorang yang belum bisa " memiliki seutuhnya " aku tidak berhak melarang ia untuk mencintai siapapun. Tugasku hanya memastikan ia mendapat yang terbaik. Walau kenyataan pahit itu bukan diriku melainkan masa lalunya, ya sudah itu yang dinamakan takdir yang pahit.

Harapan terakhirku,aku berharap engkau segera membuang jauh jauh masa lalumu itu dan hanya berfokus ke diriku seorang diri saja. Aku tau ini egois. Tapi salahkah aku egois dalam hal ini? Agar tidak hanya aku seorang yang tersakiti? Aku berharap bisa mencuci otakmu itu dan mengisinya penuh semua tentang diriku.

cemburu hanya untuk orang yang tidak percaya diri. Dan sekarang, aku sedang tidak percaya diri— Dilan 1990

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Depend On Yourself.