Pendidikan Di Indonesia: K13

Dilihat dari judulnya saja, sudah berpikiran kemana mana. Di tulisan saya kali ini, saya akan menuliskan opini saya dan berbagai pendapat dari teman teman saya, dan apa yang saya rasakan selama menjalani kurikulum 2013 yang katanya sangat " bagus " dalam penerapannya untuk siswa/i. Apabila bapak menteri pendidikan membaca postingan saya ini, ini hanya sekedar opini dari seorang pelajar SMA di kota terpencil jauh dari Ibukota. Silahkan dibaca.

Sudah menjalani program K13 selama hampir lebih 1,5 tahun dan mau 2 tahun. Selalu pasti ada buruk dan bagusnya. Jadi apa yang saya rasakan?

1. K13 Malah Membuat Semakin Capek
" sambat ae , wes to jalani ae kan yo gak kroso kesel e " thats all people will say kalau semisal saya sambat tentang betapa capeknya K13 ini. Hey,but remember, kalian ga bisa semena-mena ngatain kaya gitu, mungkin niatnya menyemangati, dan saya masih bisa memaklumi walaupun sebenarnya in wrong way, tapi ga semua orang bakal seperti saya kan yang akan memaklumi perkataan seperti itu? Ada berjuta-juta jenis manusia yang sifatnya unpredictable. Bisa saja dengan perkataan begitu mereka tersinggung, dan bisa saja mereka benar-benar capek.
Kenapa capek? Banyak faktor.
Yang katanya " tidak ada pr " , lebih fokus ke " praktik ", " peningkatkan sosial " dan " sikap " malah keterbalikannya saya rasa.
Capek karena harus mengerjakan pekerjaan yang tidak saya suka dan malah harus terpaksa meninggalkan pekerjaan yang saya suka. Contohnya saja adalah bisnis. Saya sangat suka sekali dengan dunia bisnis tapi sayang sekali terkalahkan dengan adanya PR Kimia:(.
Guru tetap selalu memberi PR, latihan soal di rumah. Hal - hal seperti inilah yang membuat pandangan saya tentang K13 agak melenceng dari tujuan awal K13 sendiri dibentuk.

2. K13 ITU Kurang Efektif
Kenapa bisa dibilang kurang efektif? Ya, karena semua mata pelajaran harus dikuasai dengan benar. Apabila seorang murid mendapat nilai buruk dalam mapel yang notabene benar benar bukan bidangnya, kalian tahu kan apa yang di ocehkan guru?
" Makannya belajar, jangan main hp, perhatikan guru kalau mengajar "
Wah, ingin mencela nanti dibilang melawan guru malah berakhir di BK, yang salah kembali lagi ke murid. Susah ya? Iya.
Begini lo, manusia itu berbeda-beda kemampuannya.
Nobody is perfect.
Kalau dituntut untuk harus bisa ini itu, harus menguasai ini itu, kenapa harus ada namanya kekurangan? Kalau kaya begitu, manusia apakah akan mengenal kata " menghargai kekurangan sesama"?
Memang untuk mencari jati diri kita harus mencoba pengalaman yang baru yang belum pernah dicoba. Tapi ketika sudah dicoba sekali saja sudah merasa tidak cocok dan tidak suka, kenapa harus dituntut dan dipaksakan?

Itu adalah yang saya rasakan, sebenarnya masih banyak ya, tapi nanti bakal meranah kemana mana.
Berikut beberapa opini teman teman saya terhadap K13 :
1. "Kurang efektif sih Na menurutku, seharusnya bisa memfokuskan kepada hal-hal/potensi yang dimiliki siswa"
2. "Kurikulum gagal yang dipaksakan"

Efek globalisasi, membuka pandangan ke dunia luar terhadap saya jauuhhhhh lebih luas luas luas, apalagi tentang pendidikan.
Apakah ada solusi untuk K13 ini?
Kalau boleh jujur ya, sebenarnya sistem pendidikan ini bagus, dan K13 itu menitikberatkan penilaian terhadap 3 ini :
1. Sikap ( jujur, santun, disiplin)
2. Keterampilan ( tugas praktek/proyek)
3. Pengetahuan Keilmuan

Bagus kan? Malah menurut saya gak kalah bagus juga sama luar negri.
Tapi apa yang membuat K13 ini tidak berjalan baik? Simple, SDMnya.
Ini bakal memanjang kemana-mana kalau membahas SDM di Indonesia. Mungkin lain kali saya coba bahas hehe.
Solusinya adalah memperbaiki tujuan awal K13 ini dan menambahkan pelajaran2 baru sesuai bakat dan minat siswa, seperti TIK, PKY, Bisnis, Robotic, dan lain-lain.

Dengan begitu setiap siswa diharapkan mampu menemukan potensi dan jati diri masing-masing yang digunakan dalam mengambil jurusan kuliah.

Sekian pendapat saya,apabila anda memiliki pendapat lain ttg K13 ini silahkan berkomentar di bawah!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Depend On Yourself.